Melatih Suara, Menemukan Diri: Refleksi Perjalanan Belajar Keterampilan Berbicara Selama Satu Semester

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Oleh: Salwa Azzahro Khoiriyah

Sebelum mengikuti mata kuliah Keterampilan Berbicara, awalnya saya mengira bahwa berbicara hanya sekadar mengeluarkan suara sebagai kemampuan spontan yang mengalir begitu saja.

Ternyata, keterampilan berbicara tidak terbatas pada hal tersebut.

Selama satu semester ini, saya menyadari bahwa berbicara merupakan seni yang memerlukan latihan, menggunakan teknik yang sesuai, kesadaran diri, serta kepercayaan diri yang perlu dibentuk secara perlahan.

Berbagai keterampilan berbicara seperti bercerita, berdongeng, berdebat, pembacaan puisi, dan lain sebagainya.

Setiap kegiatan tersebut menjadi langkah awal perjalanan saya membentuk cara berkomunikasi agar lebih terarah, efektif, dan efisien.

Hal ini tentunya menjadi hal yang sangat berkesan dan menantang bagi saya karena dapat melatih suara, intonasi dengan baik dan membangun keberanian saya.

Di awal pembelajaran, saya selalu merasa grogi dan takut ketika diminta untuk bercerita dan berbicara di depan umum.

Sejak mengikuti perkuliahan keterampilan berbicara, saya mendapatkan materi cara berkomunikasi harus memperhatikan setiap struktur kebahasaan yang tidak dapat diabaikan, seperti prinsip, fungsi, manfaat, dan teknik komunikasi.

Hal tersebut menjadi dasar agar berbicara dapat lebih terarah, efektif, dan efisien.

Sehubungan dengan pembelajaran yang saya terima baik materi dan latihan, saya mulai dapat memahami bahwa kemampuan berbicara dapat dikendalikan dan dilatih dengan cara mengatur napas, memilih kata atau diksi yang sesuai, dan memperhatikan kontak mata lawan bicara.

Semakin sering berlatih maka kemampuan berbicara saya semakin lancar, tidak tersendat-sendat, dan lebih stabil dalam mengungkapkan ide atau gagasan yang ada di dalam pikiran.

Dalam perkuliahan berikutnya, saya belajar banyak tentang cara mengatur intonasi, urutan cerita, dan ekspresi yang sesuai dengan konteks pembicaraan.

Dari pembelajaran ini, saya merasa ada peningkatan perkembangan dalam kemampuan berbicara, seperti intonasi, artikulasi, hingga keruntutan cerita.

Saya mulai dapat membedakan beberapa cerita yang bertujuan untuk informasi, persuasi, hingga ekspresi.

Dari beberapa pertemuan perkuliahan keterampilan berbicara selama satu semester ini, saya benar-benar merasa bahwa pembelajaran keterampilan berbicara ini sangat bermanfaat dan berkesan.

Pembelajaran keterampilan berbicara ini dilakukan dengan berbagai metode seperti diskusi, simulasi, proyek, dan lain sebagainya sehingga pembelajaran keterampilan berbicara ini, menjadi lebih menarik, hidup dan berkesan.

Saya juga belajar dari pengalaman tokoh-tokoh tentang cara menyampaikan gagasan, ide, atau pikiran yang dituangkan dalam tulisan.

Dari pembelajaran keterampilan berbicara tersebut, saya dapat mendeskripsikan data secara objektif dengan gaya penyampaian yang argumentatif.

Saya juga belajar bercerita menggunakan alat peraga.

Pembelajaran menggunakan alat peraga menjadi pengalaman yang paling unik dan berkesan bagi saya, karena dapat berbicara secara langsung kepada audiens dan memberikan kesan lebih hidup serta cerita yang disampaikan lebih bermakna.

Di saat memberikan pendapat tentang kelebihan dan kelemahan sebuah karya sastra, saya dapat berlatih menyampaikan argumen dengan baik dan benar, namun tetap harus mengutamakan objektivitasnya.

Selanjutnya, saya berlatih mengolah informasi melalui presentasi dengan berbagai media pembelajaran.

Saya juga berlatih membaca sebuah puisi, dengan tujuan melatih kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum.

Kegiatan perkuliahan keterampilan berbicara ini, diakhiri dengan refleksi, diskusi, dan pengambilan kesimpulan yang melatih saya dalam berpikir kritis, argumentatif, namun tepat mengutamakan etika berbicara.

Tantangan dan hambatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, yaitu mengontrol rasa gugup ketika berbicara yang sangat berpengaruh pada intonasi lafal yang saya ucapkan terutama saat menyampaikan informasi atau diskusi.

Dalam mengatasi tantangan dan hambatan ini, langkah-langkah yang saya lakukan ialah sering berlatih membaca teks, menceritakan teks dengan penekanan intonasi tertentu, dan menceritakan kembali sebagai bentuk refleksi untuk memeriksa bagian tertentu yang kurang tepat dan perlu diperbaiki. melatih kontak mata untuk memberikan kesan yang lebih dekat dengan audiens dan mengurangi rasa kaku atau gugup saat berbicara, dan berlatih mempraktikkan beberapa teknik yang diajarkan.

Selain itu, saya juga mengalami kesulitan saat diminta untuk memberikan pendapat terhadap sebuah karya sastra dengan objektif. Namun, kesulitan itu dapat saya atasi dengan berdiskusi dan memahami kembali tentang prinsip analisis dan menyampaikan komentar secara percaya diri.

Dengan pembelajaran keterampilan berbicara ini, saya merasa adanya peningkatan kemampuan keterampilan berbicara terutama public speaking dan artikulasi dalam berbicara.

Saya menjadi lebih percaya diri ketika harus berbicara di depan umum dengan artikulasi yang lebih baik dan benar.

Selain itu, saya juga merasa bahwa pembelajaran keterampilan berbicara ini membantu saya mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam mempersiapkan materi lisan, mampu menyesuaikan pembicaraan sesuai dalam berbagai situasi yang berbeda dan mampu mengimplementasikan strategi adaptif dalam berbicara, bercerita, presentasi, dan lain sebagainya.

Saya menyadari kemampuan keterampilan berbicara tidak terbatas pada kemampuan vokal saja tetapi lebih luas dari kemampuan memetakan tujuan berkomunikasi, memahami karakteristik audiens, strategi yang sesuai, dan etika berbicara.

Setelah mengikuti perkuliahan keterampilan berbicara, saya menyadari bahwa pembelajaran keterampilan berbicara sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Saya kini menjadi lebih percaya diri saat berbicara di depan umum, mempresentasikan tugas di depan kelas, berdiskusi, sampai mengutarakan pendapat di depan umum.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berbicara akan menjadi hal yang sangat bermanfaat ketika menghadapi wawancara kerja atau ketika saya mengajar di depan peserta didik karena saya kuliah di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Contoh Pengalaman Konkret yang paling berkesan bagi saya ialah ketika diminta bermain peran sebagai guru di pedalaman melalui video YouTube.

Pada rekaman pertama, saya cukup gugup bahkan, saya sempat keliru saat menyampaikan informasi.

Setelah mencoba lebih rileks dan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami, saya mulai merasa nyaman.

Saya juga belajar mengatur intonasi, tempo berbicara, dan ekspresi agar penyampaian materi mudah dipahami. Perlahan-lahan, rekaman saya menjadi lebih mengalir dan jelas.

Hingga akhirnya, saya bisa menyelesaikan video tersebut dengan hasil yang lebih natural.

Dari pengalaman ini, saya semakin sadar bahwa latihan berbicara di depan kamera sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan berbicara saya.

Dengan pembelajaran keterampilan berbicara, saya menyadari bahwa keterampilan berbicara yang baik tidak dapat muncul begitu saja tetapi memerlukan latihan secara terus-menerus dan konsisten.

Saya ingin terus mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum yang saya miliki, dan memperbaiki intonasi lafal dengan baik dan benar, dan terus mengembangkan gaya penyampaian agar sesuai dengan konteks pembicaraan.

Selanjutnya, saya ingin bergabung ke dalam komunitas atau kelompok yang dapat membantu saya mengembangkan keterampilan berbicara.

Menurut saya, mata kuliah keterampilan berbicara ini sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, karena ilmu pengetahuan yang didapatkan membantu saya mengenali potensi diri dan mengembangkan keterampilan berbicara.

 

Penulis : Salwa Azzahro Khoiriyah adalah Mahasiswi di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Baca juga : Kemeriahan Reuni Polteknes Samarinda

77 / 100 Skor SEO